Friday, January 2, 2009

Merah Itu Hijau

Sewaktu masih baru saja bekerja di perusahaan saya sekarang saya pernah mendapat tugas untuk membawakan laptop bos saya yang ketinggalan di kantor untuk dibawa ke hotel tempat bos saya meeting. Karena saya belum begitu mengenal jalan-jalan di Jakarta saya tanya ke bos by phone dimana letak hotel tempat meeting tersebut.

Diujung telepon bos saya menjawab "setelah lampu merah (traffic light) kelima dari kantor kamu belok ke kiri. dengan "pede"nya saya jawab baik pak saya langsung meluncur.
Saking tergesa-gesanya dan "crowded"nya jalan di Jakarta saya sampai lupa sudah berapa lampu merah saya lewati. Dan seperti yang sudah diduga saya tersesat sehingga saya harus berhenti dan bertanya-tanya ke beberapa orang. Ternyata saya sudah terlewat dari lampu merah yang dimaksud bos saya dan harus putar balik.

Karena saya belum tiba juga di hotel akhirnya akhirnya bos saya telpon dan saya terangkan bahwa saya terlewat jauh dan untuk balik arah mungkin agak lama karena macet. Dengan nada agak tinggi bos saya bertanya kepada saya "gimana sih kan sudah saya kasih tahu setelah lampu merah kelima belok kiri!!! masa gitu aja ga tau?"...... Saking gugupnya saya jawab sekenanya "iya pak maaf yang saya itung hanya lampu (traffic light) yang berwarna merah aja kalo lampunya hijau (traffic light) ga ikut saya itung, jd saya terlewat jauh...."(he...he...he....Alasan yang konyol, untungnya bos saya malah ketawa dan meskipun agak telat akhirnya saya sampai juga).

Tanpa disadari alasan konyol saya itu seringkali terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari dan sering kali juga membuat kita sedikit tersesat. Lha kok bisa? (Iya harus bisa wong tulisan-tulisan saya sendiri nyambung ga nyambung ya harus nyambung...wakakakakakak).

Oke.....Saya ambil contoh kehidupan sosial dan pertemanan. Sepengetahuan saya manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan menyayangi. Tapi dalam kenyataannya kebanyakan dari kita (saya termasuk salah satunya) akhirnya hanya cocok dengan beberapa orang saja. Entah itu karena saya merasa si A terlalu sombong atau si B terlalu cuek sampai dengan si Z yang pemarah (Kok A sampai dengan Z? terus saya berteman dengan siapa dong? he..he..he..).

Kembali ke hakikat penciptaan manusia oleh Tuhan, menurut keyakinan saya manusia diciptakan untuk saling mengasihi dan menyayangi seharusnya rasa suka atau tidak suka / rasa cocok atau tidak cocok tersebut bisa kita meminimalisir sehingga kita bisa berteman dengan lebih banyak (bagi saya banyak teman berarti banyak saudara).

Masih menurut saya (masa menurut anda, yang nulis tulisan ini kan saya he...he...) seharusnya kita menerima orang-orang disekitar kita "as a human being" yaitu sebagai manusia yang utuh yang mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga dan tidak usah bikin batasan-batasan atau mengkotak-kotakan orang-orang disekitar kita.

Kita (Baca saya) seringkali secara sadar atau tidak sadar tidak (berarti pingsan dong he..he..he..) mengkotak-kotakan teman-teman kita sendiri dengan "kalimat sakti" tidak suka, tidak cocok, sombong, congkak dll. Kalau kita gali lebih dalam (lha emang mo gali sumur he..he..he..) hal-hal negatif atau kekurangan tentang orang lain sangat mudah kita ingat dibandingkan kebaikannya.

Tidak percaya? mari kita buktikan. Ajak salah satu teman anda sebagai penulis jawaban yang anda jawab dari pertanyaan ini.


1. Siapakah orang yang kurang anda senangi di lingkungan sekitar anda?
2. Sebutkan sebanyak-banyaknya kekurangan atau kejelekan orang tersebut dalam 1 menit.
3. Sebutkan sebanyak-banyaknya kebaikan orang tersebut dalam 1 menit.

Nah mari sekarang kita lihat jawaban anda, seberapa banyak kebaikan dan kejelekan orang yang anda maksud............... Bila jawaban anda ternyata lebih banyak kekurangan dibandingkan kebaikan berarti virus pengkotak-kotakan teman sudah menjangkiti anda. Tapi bila kebaikan yang lebih banyak maka ANDA KURANG MEMAHAMI PERTANYAAN SAYA NOMOR 1 he...he..he...

Sebaiknya kita melihat teman sebagai manusia yang utuh , ada kebaikan dan kekurangan (jangan cuman salah satunya saja) nanti bisa tersesat seperti saya, hanya menghitung lampu MERAH saja dan mengabaikan lampu HIJAU bukan melihatnya sebagai satu kesatuan benda yang disebut Traffic Light.

Thursday, January 1, 2009

To Dream The Impossible Deam

To dream the impossible dream,
To fight the unbeatable foe,
To bear with unbearable sorrow,
To run where the brave dare not go.

To right the unrightable wrong,
To love pure and chaste from afar,
To try when your arms are too weary,
To reach the unreachable star.

This is my quest,
To follow that star --
No matter how hopeless,
No matter how far.

To fight for the right
Without question or pause,
To be willing to march
Into hell for a heavenly cause.

And I know if I'll only be true
To this glorious quest
That my heart will be peaceful and calm
when I'm laid to my rest.

And the world will be better for this,
that one man scorned and covered with scars
still strove with his last ounce of courage.
To reach the unreachable star.

To dream the impossible dream
To fight the unbeatable foe
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go.

To right the unrightable wrong
To be better far than you are
To try when your arms are too weary
To reach the unreachable star.

This is my quest, to follow that star,
No matter how hopeless, no matter how far
To be willing to give when there's no more to give
To be willing to die so that honor and justice may live

And I know if I'll only be true to this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm when I'm laid to my rest

And the world will be better for this
That one man scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star.